Leena memandang Lynx dengan heran. “Apa maksudmu Lynx ?.”

“Chiko mengatakan posisi gua mereka ada di hutan sebelah barat pulau, sedangkan kita ada di sebelah utara pulau dekat pantai…” Lynx kemudian menceritakan semua apa yang diketahuinya dari Chiko, mengenai petunjuk-petunjuk yang ada di gua dan berbagai keanehan lainnya. Termasuk tentang harta karun yang menjadi alasan kenapa Sherly nekat meninggalkan gua tempat tinggal mereka. Bahkan Lynx curiga bahwa Chiko dan Sherly bukan berasal dari dunia yang sama dengan mereka, karena saat mereka mengobrol, Lynx menemukan banyak keanehan dengan cerita Chiko, meskipun mereka berasal dari kota yang berdekatan, namun seolah Lynx tidak mengenali kondisi kota yang diceritakan oleh Chiko.

Leena terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk pelan, "Kamu benar Lynx, aku juga sebenarnya sering bertengkar dengan Sherly salah satunya karena aku merasa dia suka berbohong. Banyak hal yang dia ceritakan tentang tempat tinggalnya yang tidak sesuai dengan kondisi kota yang aku ketahui."

Lynx menepuk pundak Leena dengan lembut, "Banyak keanehan yang perlu kita pecahkan bersama. Tapi setidaknya kita memiliki petunjuk bahwa ada orang lain selain kita yang ada di pulau ini sebelumnya. Bahkan jika kamu setuju, aku sebenarnya ingin kita pergi ke gua yang dimaksudkan Chiko untuk mencari petunjuk untuk keluar dari tempat ini.”

“Tapi untuk saat ini kita harus percaya bahwa Sherly bisa menjaga dirinya sendiri. Sekarang, ayo kita lanjutkan perjalanan." lanjut Lynx sambil menarik tangan Leena untuk melanjutkan perjalanan..

Dengan berat hati, Lynx dan Leena melanjutkan perjalanan, meninggalkan Sherly yang telah memutuskan untuk pergi sendirian. Mereka berdua berjalan dalam keheningan, khawatir dengan keputusan Sherly, namun tetap bertekad untuk menemukan jalan keluar dari pulau ini.

Sementara itu, Sherly berjalan seorang diri menyusuri hutan yang lebat. Ia merasa lega karena akhirnya bisa terlepas dari Lynx dan Leena. Gadis itu merasa bahwa keberadaan mereka hanya akan menghambatnya untuk mendapatkan harta karun.

"Meskipun sendiri, aku pasti bisa menemukan harta karun itu dan kembali ke asalku," gumam Sherly, tersenyum penuh kemenangan.

Tanpa Leena dan Lynx ketahui, secara diam-diam, Sherly pada malam sebelum mereka berangkat untuk berburu, Ia telah membawa berbagai macam racun dan obat-obatan buatan Lynx untuk digunakan sebagai alat jaga diri.

Sepeninggal Sherly, Lynx dan Leena melanjutkan perjalanan mereka menyusuri hutan yang lebat. Suasana di antara mereka terasa sedikit berat, memikirkan keputusan Sherly untuk pergi sendirian.

"Aku masih tidak mengerti kenapa Sherly nekat pergi sendiri, dia bisa minta bantuan kita untuk mendapatkan harta karun itu" ujar Leena, memecah keheningan.

Lynx menghela napas, "Entahlah, Leena. Mungkin Sherly merasa tidak nyaman bersama kita. Sebenarnya aku khawatir dia akan terluka atau tersesat di hutan ini."

Leena mengangguk pelan, "Aku juga khawatir, Lynx. Kita seharusnya mencegahnya pergi."

"Kau tahu Leena, Sherly sudah membuat pilihannya sendiri. Kita harus menghormati itu, meski tidak setuju," ujar Lynx, mencoba menenangkan.

Leena terdiam sejenak, lalu berkata, "Kau benar, Lynx. Tapi aku tetap tidak bisa tenang memikirkannya."

Lynx tersenyum lembut, lalu menepuk pundak Leena, "Aku juga khawatir, Leena. Tapi sekarang, kita harus tetap fokus untuk bertahan hingga menemukan jalan keluar dari pulau ini."

Leena mengangguk, lalu berkata, "Baiklah, Lynx. Ayo, kita lanjutkan perjalanan."

Mereka berdua kembali melanjutkan langkah, menyusuri jalan setapak diantara pepohonan. Suasana di sekitar mereka tampak semakin gelap dan mencekam, membuat Leena sedikit merasa cemas.

"Lynx, apa kita tidak bisa beristirahat sebentar?" tanya Leena, mengeratkan genggaman pada senjatanya.

Lynx mengangguk, "Kurasa kita memang perlu beristirahat sejenak. Ayo, kita cari tempat yang aman."

Mereka berdua mulai mencari area yang lebih terbuka, jauh dari kegelapan hutan yang menyeramkan. Setelah beberapa saat, mereka menemukan sebuah gua kecil yang tampak cukup aman.

"Bagaimana dengan sini, Leena?" tanya Lynx, memperhatikan gua itu.

Leena mengangguk, "Iya, tempat ini tampak lebih aman daripada hutan. Ayo, kita beristirahat sebentar."

Mereka berdua lalu memasuki gua kecil itu, memastikan tidak ada bahaya yang mengintai. Setelah memastikan keadaan aman, Lynx dan Leena duduk bersandar di dinding gua, mencoba menenangkan diri.

"Kau baik-baik saja, Leena?" tanya Lynx, memperhatikan raut wajah Leena yang tampak sedikit tegang.

Leena menghela napas, "Aku... aku masih khawatir dengan Sherly, Lynx. Aku takut dia kenapa-napa."

Meskipun raut wajahnya masih tampak sedikit khawatir, mereka berusaha untuk fokus ke depan. Mereka berdua lalu beristirahat sejenak di dalam gua, mencoba menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan.

Setelah cukup beristirahat, Lynx dan Leena kembali melanjutkan perjalanan mereka. Selama perjalanan, Lynx dan Leena berhati-hati memeriksa setiap sudut, waspada terhadap kemungkinan adanya bahaya yang mengintai. Mereka terus berjalan, menyusuri jalan setapak di antara pepohonan yang semakin lebat.

Tiba-tiba, Leena menghentikan langkahnya, membuat Lynx menoleh ke arahnya.

"Ada apa, Leena?" tanya Lynx, memperhatikan Leena yang tampak was-was.

Saat mereka berdua mulai memfokuskan perhatian, tiba-tiba terdengar suara auman yang menggelegar dari kejauhan..

Lynx dan Leena saling berpandangan, bingung dengan apa yang terjadi.

"Apa itu tadi?" tanya Leena, berusaha mengatur detak jantungnya yang kaget.

Lynx menggeleng, "Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya kita harus kembali sebelum kemalaman, aku tidak ingin kita bertemu dengan mahluk buas lagi seperti sebelumnya. Meski kita belum mendapatkan hewan buruan tapi sudah lumayan banyak buah yang kita dapatkan."

Mereka berdua lalu memutuskan segera kembali ke gua, mereka masih mengalami trauma dengan kematian Chiko akibat serangan binatang buas.

Dalam perjalanan kembali menuju gua, Lynx dan Leena tetap mengumpulkan buah-buahan yang tumbuh liar di sekitar hutan. Mereka berhati-hati memilih buah yang tampak segar dan aman untuk dimakan. Selain itu Lynx juga mengumpulkan tanaman-tanaman untuk dimanfaatkan seperti pembuatan obat dan racun. Melawan para serigala membuat Lynx tersadar pentingnya mengetahui berbagai tanaman tersebut untuk menyelamatkan diri di tempat yang penuh dengan bahaya seperti itu. Dia bertekad akan terus melakukan penelitian agar dapat memiliki senjata yang lebih kuat untuk melindungi Leena.

"Ini seharusnya cukup untuk makan malam kita," kata Lynx sambil mengamati koleksi buah mereka. Leena tersenyum, merasa lebih tenang melihat persediaan makanan yang berhasil mereka kumpulkan.

Setelah beberapa waktu, mereka tiba di tepi sungai tempat jebakan ikan mereka pasang. Lynx melihat jebakan ikan yang dia buat sebelumnya. "Semoga kita mendapatkan sesuatu," ujarnya. Dengan penuh harapan, mereka memeriksa jebakan itu dan menemukan beberapa ikan kecil terperangkap di dalamnya. Lynx cepat-cepat mengambil ikan-ikan itu dan membawanya ke gua.

Sesampainya di gua, suasana hati mereka terasa kurang nyaman. Kematian Chiko dan kepergian Sherly membuat suasana gua menjadi terasa sepi.

“Lynx, kita kembali seperti awal, hanya berdua. Aku menyesal selalu bertengkar dengan Sherly. Semoga dia baik-baik saja.” Kata Leena memecah kesunyian.

“Kita harus berjuang untuk bisa segera keluar dari tempat ini.” Kata Lynx.

Mereka kemudian masuk kedalam gua untuk beristirahat, namun saat menyimpan tanaman yang dipetiknya,  Lynx menyadari ada yang tidak beres. "Leena, lihat ini," katanya sambil menunjukkan tempat di mana dia menyimpan obat dan racun buatannya. "Banyak yang hilang!"

Leena melangkah mendekat, dan wajahnya tampak cemas saat melihat kekacauan di sudut gua. "Siapa yang bisa mengambilnya? Apakah mungkin Sherly?" tanyanya, suaranya bergetar.

"Sepertinya dia yang mengambil, karena hanya ada kita bertiga disini yang tahu kegunaan barang-barang ini," jawab Lynx, menyandarkan punggungnya ke dinding gua, tampak berpikir keras.

“Sepertinya kepergian dia memang sudah di persiapkannya sejak awal” kata Leena sambil memeriksa kembali bahan yang tersisa.

Malam pun tiba, meskipun mereka berusaha untuk beristirahat, pikiran tentang Sherly dan hilangnya obat membuat mereka gelisah. Leena duduk bersandar di dinding gua, menggigit bibirnya. "Lynx, Kita perlu segera melakukan perjalanan ke gua yang Chiko sebutkan. Kita harus menemukan petunjuk di gua tersebut yang bisa membawa kita pulang atau setidaknya bisa menemukan Sherly kembali dan memastikan dia baik-baik saja."

Lynx mengangguk setuju. "Kita perlu mempersiapkan semua perlengkapan yang kita butuhkan jika ingin kesana. Tanpa arah yang pasti, akan banyak bahaya yang kita temui di perjalanan. Selain jauh, kemungkinan kita tidak akan kembali lagi ketempat ini.”

“Kamu benar Lynx, tempat ini sudah sangat nyaman dan aman untuk kita tempati, tapi kita memang harus mencari jalan untuk pulang.” Jawab Leena sambil menganggukkan kepala. “Kapan kita berangkat?” tanyanya.

“Bagaimana jika besok kita berangkat pergi ke gua itu," Kata Lynx.

“Aku setuju Lynx, semakin cepat semakin baik, selain itu luka-luka tubuh kita juga sudah mulai pulih” Kata Leena bersemangat.

Di malam hari, setelah bersiap-siap, keduanya tidur terlelap, tetapi mimpi buruk menghampiri Leena. Ia bermimpi tentang perjalanan yang berbahaya, terjebak dalam kegelapan hutan, dikejar oleh makhluk-makhluk mengerikan. Leena Terbangun dengan napas tersengal-sengal, mereka berusaha menenangkan diri. Melihat Lynx disampingnya, Leena melanjutkan tidurnya kembali.

Keesokan paginya, Lynx memutuskan untuk menggambar peta kasar berdasarkan informasi yang diberikan Chiko. Dengan hati-hati, dia mencatat semua titik penting, termasuk posisi mereka saat ini di sebelah utara pulau dan lokasi gua yang terletak di hutan sebelah barat.

"Ini adalah titik awal kita," kata Lynx, menunjuk pada tempat dimana mereka menemukan Chiko dan Sherly pertama kali. Leena melihat peta itu dengan penuh perhatian, semangatnya mulai tumbuh saat memikirkan perjalanan yang akan mereka lakukan.

"Baiklah, kita siap. Mari kita berangkat," kata Leena, mengumpulkan peralatan dan perlengkapan seperti tabung bambu untuk tempat minum, beberapa pakaian, serta obat dan racun yang tersisa.

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka menutup gua dengan rapat dan menutupinya dengan dedaunan agar tersamarkan. Lalu dengan tekad yang bulat, mereka melangkah keluar dari gua, memulai petualangan baru untuk menemukan jalan pulang dan menghadapi apa pun yang mungkin menanti mereka di hutan sebelah barat.

Langkah pertama dalam perjalanan mereka dimulai dengan menuju pantai, di mana Lynx dan Leena berencana untuk melihat tanda SOS yang mereka buat sebelumnya. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke arah laut, hati mereka berdebar-debar menantikan harapan bahwa seseorang mungkin telah melihat sinyal mereka.

Saat melewati sebuah pohon besar yang menjulang tinggi, Leena berhenti sejenak. "Lynx, Ingatkah kau saat pertama kali kita berada di pulau ini?" tanyanya, senyum kecil muncul di wajahnya. Lynx mengangguk, mengenang kembali momen ketika mereka berlindung di bawah pohon itu, menghindari badai dan ketakutan akan situasi baru yang mereka hadapi.

"Ya, kita hampir tidak percaya bisa bertahan hidup. Kita tidak memiliki pakaian dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," jawab Lynx, merasakan nostalgia dari ingatan tersebut. Lynx  mengingat bagaimana mereka saling menghibur, berusaha bertahan melawan badai dan membuat rencana untuk bertahan di pulau yang asing.

Leena yang mengingat kejadian itu langsung memalingkan wajahnya karena malu, lalu dia menarik tangan Lynx untuk segera melanjutkan perjalanan dan mengalihkan perhatiannya.

Akhirnya, mereka sampai di pantai. Leena langsung mencari tanda SOS yang telah mereka buat dari batu-baru besar di atas pasir. Namun, saat dia melihat ke arah tanda tersebut, dia merasa sangat kecewa. Tanda SOS itu masih ada, tetapi tidak ada jejak manusia ataupun tanda bahwa seseorang telah datang.

"Ini sangat mengecewakan," kata Leena, suaranya penuh kekecewaan. "Aku berharap setidaknya ada seseorang yang melihatnya."

Lynx merasakan kesedihan yang mendalam dalam nada suara Leena. "Kita tidak boleh menyerah," katanya menenangkan. "Kita harus terus berusaha dan mencari cara lain untuk kelaur dari tempat ini."

Leena mengangguk, berusaha mengumpulkan semangatnya kembali. "Kau benar. Kita harus tetap optimis. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita ke gua yang Chiko ceritakan. Mungkin di sana kita bisa menemukan petunjuk untuk pergi dari tempat ini."

Setelah melihat tanda SOS yang tidak membuahkan hasil, Leena merasakan kekecewaan yang mendalam. Namun, saat melihat deburan ombak dan nuansa laut yang menenangkan, sebuah keinginan mendesak muncul dalam dirinya. "Lynx, aku ingin mandi di pantai. Sudah lama sekali kita tidak menikmati suasana laut," katanya, suara penuh harap.

Lynx melihat ke arah pantai yang sepi dan mengangguk. "Baiklah, kita bisa melakukannya sebentar. Tapi kita harus tetap waspada," jawabnya, tetap memperhatikan sekeliling.

Mereka berjalan menyusuri garis pantai, menikmati semilir angin laut yang segar. Leena merasa lebih hidup saat air laut menyentuh kakinya, menghilangkan rasa penat yang telah menumpuk. Lynx berdiri di tepi, matanya menatap jauh ke lautan, merasakan kedamaian yang sejenak mengalihkan perhatian mereka dari masalah yang ada.

Setelah memastikan barang-barang yang mereka bawa aman, Lynx dan Leena bermain sepuasnya di pinggir pantai.

"Leena, ingat jangan terlalu dalam. Kita tidak tahu hewan apa saja yang ada dilaut ini!" Kata Lynx mengingatkan.

Leena menganggukan kepala lalu melanjutkan bermainnya.

"Kami harus menempuh perjalanan jauh jika ingin menikmati pantai" kata Lynx sambil mengenang saat dia masih bersama keluarganya.

Setelah cukup menikmati waktu di pantai dan mengganti pakaian, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Leena dan Lynx mengikuti jejak yang mereka buat saat pertama kali bertemu dengan Chiko,mereka memasuki hutan yang lebat.

Namun, tiba-tiba, seekor elang besar melintas di atas mereka, terbang rendah dengan tatapan tajam. Leena merasakan firasat buruk saat melihat burung itu. "Lynx, lihat! Elang itu... sepertinya ada sesuatu yang tidak beres," katanya, suaranya bergetar.

Lynx menoleh dan melihat elang tersebut. "Jangan khawatir, Leena. Elang itu mungkin hanya mencari mangsa. Kita tidak bisa membiarkan hal-hal seperti ini menghentikan kita. Kita pasti baik-baik saja," ujarnya, berusaha menenangkan hati Leena.

Meskipun masih merasakan kegelisahan, Leena berusaha mempercayai Lynx. "Baiklah, aku akan berusaha untuk tidak berpikir negatif," katanya, berusaha mengusir ketakutannya.

"Lynx, kita harus berhati-hati disini. Bukankah disini kita diserang babi hutan waktu itu?" tanya Leena gugup.

"Iya, kurasa disini memang tempat kita melarikan diri dari serangan babi hutan waktu itu." Jawab Lynx.

Saat matahari mulai terbenam, Lynx dan Leena mencari pohon yang aman untuk dijadikan tempat beristirahat sebelum malam tiba. Mereka berkeliling, mencari pohon yang cukup besar dan kuat untuk menampung mereka berdua. Setelah beberapa menit, mereka menemukan sebuah pohon besar dengan cabang yang kokoh dan cukup tinggi.

"Kita bisa menginap di sini," kata Lynx, menunjuk ke cabang yang lebih rendah. "Cabang ini terlihat cukup kuat untuk menopang kita."

Leena mengangguk setuju, “Baiklah Lynx, seperti biasa, kamu harus naik duluan.” katanya sambil memaksa Lynx untuk memanjat.

Lynx yang sudah paham dengan sifat dan alasan Leena memilih menurutinya dan mulai memanjat, tetapi perasaan tidak nyaman mulai mengganggu pikirannya. Saat mereka mulai memanjat, tiba-tiba mereka mendengar suara raungan aneh dari jauh. Suara itu mengerikan dan mengingatkan mereka pada tragedi yang dialami Chiko.

"Suara itu... apa itu?" tanya Leena, wajahnya pucat. "Aku tidak suka ini, Lynx."

Lynx berusaha menenangkan Leena. "Cobalah untuk tetap tenang dan fokus, Leena. Kita sudah melewati banyak hal, dan kita akan baik-baik saja. Kita hanya perlu menjaga diri kita sendiri dan bersembunyi dari bahaya."

Setelah berhasil mencapai cabang yang aman, mereka duduk bersebelahan, memastikan posisi mereka cukup nyaman untuk malam itu. Lynx mengambil beberapa ranting kering dan daun untuk membuat tempat tidur sementara, berusaha membuat suasana lebih nyaman.

"Jadi, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Leena, berusaha mengalihkan perhatian dari suara yang mengganggu.

"Dari sini, kita harus melanjutkan ke barat. Aku sudah memperhatikan arah matahari. Aku yakin ke arah sana adalah yang jalan yang tepat menuju gua," ujarnya, yakin sambil menunjuk ke sebuah arah.

"Lalu apa yang akan kita lakukan jika kita bertemu dengan makhluk yang berbahaya?" tanya Leena, nada suaranya sedikit cemas.

"Kita akan berusaha untuk tidak melawan. Kita harus bergerak secara hati-hati dan mencari tempat berlindung jika perlu. Ingat, kita tidak sendirian. Kita memiliki satu sama lain," jawab Lynx, memberikan senyuman untuk menenangkan Leena.

Leena merasa sedikit lebih tenang dengan kata-kata Lynx. "Terima kasih, Lynx. Aku merasa lebih baik saat bersamamu. Aku tahu kita bisa melewati ini bersama."

Lynx menatap Leena dengan penuh perhatian. "Aku akan selalu menjaga kamu, Leena. Kita akan melalui malam ini dan pagi harinya, kita akan melanjutkan pencarian kita. Jika ada bahaya, aku akan melindungimu."

Mereka berdua duduk dalam keheningan, mendengarkan suara alam di sekitar mereka. Meski ketakutan dan ketidakpastian masih ada, mereka tahu bahwa bersama-sama, mereka akan menghadapi apa pun yang terjadi malam ini. Lynx merangkul Leena dengan lembut, memberikan rasa aman dan ketenangan di tengah kegelapan yang menyelimuti hutan.
